Lautan Baru
Lautan Baru adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi lautan Terra setelah rangkaian perubahan besar pada akhir 4016 Astra dan Konvergensi Terra.
Istilah ini tidak merujuk pada satu fenomena yang secara langsung melarang pelayaran. Lautan Baru terbentuk dari gabungan perubahan biologis, geografis, komunikasi, dan keruntuhan infrastruktur yang membuat laut jauh lebih berbahaya dibandingkan pada Era Futuristik.
Perubahan kondisi laut telah terlihat sebelum Konvergensi Terra selesai. Pada 30 Lumera 4016, perjalanan antarpulau telah praktis lumpuh akibat meningkatnya serangan monster laut, hilangnya dukungan udara, serta memburuknya keamanan jalur pelayaran.
Konvergensi Terra kemudian mengubah geografi planet dalam skala besar dan memperkuat kondisi yang membentuk Lautan Baru pada Zaman Liraya.
Meskipun demikian, laut tetap dapat dilayari. Kapal masih dapat beroperasi, pelabuhan masih digunakan, dan hubungan melalui laut masih dapat dipertahankan di beberapa wilayah. Keamanan suatu rute bergantung pada kondisi setempat, keberadaan monster, informasi navigasi, komunikasi, kesiapan kapal, serta kemampuan suatu wilayah untuk melindungi jalur tersebut.
Informasi Umum
| Informasi | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Lautan Baru |
| Jenis | Kondisi lautan Terra |
| Perubahan awal yang diketahui | Akhir 4016 Astra |
| Keruntuhan besar pelayaran | 30 Lumera 4016 |
| Perubahan geografis besar | Konvergensi Terra |
| Status | Menjadi kondisi umum lautan pada Zaman Liraya |
| Ancaman utama | Monster laut, perubahan geografi, komunikasi tidak stabil, kerusakan infrastruktur, dan keterbatasan logistik |
| Pelayaran | Masih memungkinkan dalam kondisi tertentu |
Perubahan Laut pada Akhir 4016
Pada awal Sangkala Purba, laut masih digunakan secara luas oleh manusia. Kapal perang, kapal induk, kapal logistik, dan berbagai armada nasional tetap beroperasi dalam perang melawan monster.
Keadaan memburuk dengan cepat menjelang akhir 4016.
Pada 30 Lumera, KGT melaporkan bahwa laut menjadi semakin tidak aman dalam beberapa jam terakhir dan jumlah monster yang muncul di perairan terus meningkat. Armada yang membawa Ravian dan kelompoknya bahkan diperintahkan kembali menuju daratan karena situasi di laut terus memburuk.
Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Valmora, armada tersebut diserang oleh makhluk laut yang mampu memasuki kapal. Monster menyerupai ikan berkaki ditemukan di permukaan maupun di dalam kapal, sementara makhluk laut berukuran sangat besar muncul ketika armada mendekati pelabuhan.
Pergerakan makhluk raksasa tersebut saja mampu membuat beberapa kapal terbalik meskipun makhluk itu tidak secara langsung menyerang armada.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman laut tidak terbatas pada satu jenis monster atau satu pola serangan. Makhluk yang hidup di laut dapat memiliki ukuran, perilaku, kemampuan, dan ketahanan yang berbeda-beda.
Konvergensi Terra kemudian mengubah kondisi geografis planet dalam skala yang lebih luas. Data terakhir KGT menunjukkan perubahan garis pantai, tenggelamnya sebagian daratan, terangkatnya wilayah lain, munculnya pulau baru, serta perubahan berbagai bentuk geografis.
Perubahan masih berlangsung setelah citra terakhir tersebut diambil. Karena itu, peta lama hanya dapat digunakan sebagai referensi.
Kondisi dan Ancaman Laut
Bahaya Lautan Baru berasal dari beberapa faktor yang saling berkaitan:
- keberadaan monster laut dalam jumlah dan jenis yang belum sepenuhnya diketahui;
- perubahan garis pantai, pulau, dan jalur laut setelah Konvergensi;
- kerusakan pelabuhan dan fasilitas pesisir;
- terbatasnya komunikasi jarak jauh akibat Ambang Komunikasi;
- peta dan data navigasi lama yang tidak lagi sepenuhnya akurat;
- berkurangnya awak, teknisi, navigator, dan personel berpengalaman;
- serta keterbatasan suku cadang, amunisi, fasilitas perawatan, dan sumber daya operasional.
Berbeda dari Ambang Langit, tidak terdapat satu batas yang secara langsung membuat kapal tidak dapat bergerak di laut.
Tingkat bahaya pelayaran bergantung pada wilayah dan keadaan rute yang dilalui.
Monster Laut
Monster laut merupakan ancaman utama bagi pelayaran.
Tidak semua monster memiliki ukuran, asal, perilaku, atau kemampuan yang sama. Sebagian dapat bergerak di permukaan atau perairan dangkal, sedangkan makhluk lainnya hidup di wilayah yang lebih dalam.
Beberapa monster mampu menyerang lambung kapal, memasuki bagian dalam kapal, merusak sistem penting, atau menimbulkan ancaman hanya melalui ukuran dan pergerakannya.
Kapal juga memiliki keterbatasan dalam mendeteksi ancaman yang berada di bawah permukaan. Sonar dan sensor tetap berguna, tetapi tidak menjamin seluruh monster dapat diketahui sebelum mendekati kapal.
KGT sendiri menegaskan bahwa tidak terdapat satu aturan yang berlaku bagi seluruh monster. Struktur tubuh, ketahanan, perilaku, kemampuan, kelemahan, dan efektivitas senjata terhadap masing-masing jenis dapat berbeda.
Pembagian Wilayah Laut
Pada Zaman Liraya, manusia membedakan wilayah laut berdasarkan tingkat risiko dan banyaknya informasi yang tersedia mengenai kawasan tersebut.
| Wilayah | Kondisi Umum |
|---|---|
| Perairan Pelabuhan | Relatif paling terkendali karena dekat dengan permukiman, pangkalan, dan pertahanan pesisir |
| Perairan Pesisir | Masih sering digunakan, tetapi tetap memiliki risiko monster dan gangguan lokal |
| Jalur Laut Terbatas | Rute yang telah dipetakan atau kembali digunakan secara berkala |
| Laut Terbuka | Risiko tinggi karena jauh dari dukungan daratan dan ancaman sulit diprediksi |
| Zona Monster Laut | Wilayah yang diketahui memiliki aktivitas monster tinggi |
| Zona Hilang | Wilayah yang memiliki catatan kehilangan kapal dalam jumlah tinggi atau tanpa penjelasan yang jelas |
| Samudra Dalam | Wilayah dengan informasi sangat terbatas dan tingkat eksplorasi rendah |
Klasifikasi tersebut tidak bersifat permanen. Perpindahan monster, perubahan kondisi wilayah, hilangnya fasilitas pengawasan, atau ditemukannya rute baru dapat mengubah tingkat keamanan suatu kawasan.
Pelayaran dan Navigasi
Pelayaran pada Zaman Liraya masih dilakukan, tetapi jarak perjalanan sangat memengaruhi tingkat risiko dan kebutuhan persiapan.
| Jenis Pelayaran | Kondisi Umum |
|---|---|
| Pesisir | Masih umum dilakukan pada wilayah yang relatif aman |
| Antarpulau dekat | Dapat dilakukan apabila rute dan pelabuhan tujuan diketahui |
| Antarpulau jauh | Berisiko tinggi dan membutuhkan persiapan lebih besar |
| Lintas negara | Umumnya berupa operasi atau ekspedisi penting, bukan transportasi rutin |
| Lintas benua | Sangat jarang dilakukan karena jarak, risiko, dan kebutuhan logistik |
Pelayaran pesisir biasanya digunakan untuk hubungan antarpelabuhan dekat, patroli, evakuasi, pengiriman kebutuhan penting, atau kegiatan masyarakat pesisir.
Pelayaran antarpulau membutuhkan informasi mengenai rute, kondisi pelabuhan tujuan, aktivitas monster, keadaan kapal, serta kemampuan untuk bertahan apabila komunikasi terputus.
Kondisi tersebut sangat penting bagi negara kepulauan seperti Tavaru, karena laut menjadi satu-satunya jalur fisik antara banyak wilayah setelah penerbangan jarak jauh ikut dibatasi oleh Ambang Langit.
Pelayaran jarak jauh membutuhkan kapal yang mampu membawa logistik, suku cadang, peralatan medis, amunisi, awak terlatih, serta kemampuan perbaikan mandiri.
Kapal juga harus siap beroperasi tanpa bantuan langsung dari pangkalan apabila kehilangan komunikasi.
Komunikasi di Laut
Ambang Komunikasi membuat hubungan antara kapal dan daratan semakin sulit dipertahankan seiring bertambahnya jarak.
Radio, jaringan data, sistem komunikasi, dan pembaruan navigasi masih dapat digunakan selama koneksi tersedia. Namun, pelayaran jauh memiliki risiko kehilangan hubungan dengan pelabuhan atau pusat komando.
Kondisi tersebut menimbulkan beberapa masalah operasional:
- sinyal darurat tidak selalu dapat diterima;
- posisi kapal tidak selalu dapat dipantau dari daratan;
- kapal tidak selalu dapat menerima perubahan perintah atau kondisi rute;
- bantuan tidak dapat segera dipanggil;
- serta kapal yang hilang kontak menjadi sulit ditemukan.
Karena itu, kapal yang beroperasi jauh dari wilayah manusia harus membawa data navigasi, perlengkapan, dan kewenangan operasional yang cukup untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Peta Laut
Peta laut Era Futuristik tetap berguna sebagai referensi, tetapi tidak lagi dapat dianggap sepenuhnya akurat.
Konvergensi Terra mengubah garis pantai, menenggelamkan dan mengangkat wilayah, serta menghasilkan pulau dan bentuk daratan yang tidak terdapat dalam data sebelumnya.
KGT secara langsung memperingatkan bahwa seluruh peta lama harus dianggap sebagai referensi dan setiap jalur harus diverifikasi kembali.
Karena itu, pemetaan ulang menjadi bagian penting dari pelayaran. Data dapat diperoleh melalui survei kapal, laporan pelabuhan, ekspedisi, navigator, peta fisik, citra yang masih tersedia, serta informasi yang dibawa dari wilayah lain.
Data mengenai aktivitas monster juga menjadi bagian dari navigasi karena sebuah rute yang secara geografis dapat dilewati belum tentu aman digunakan.
Operasi Kapal
Kemampuan sebuah kapal untuk tetap berlayar tidak hanya ditentukan oleh sumber energinya.
Operasi laut membutuhkan awak terlatih, navigator, teknisi, makanan, air, obat-obatan, suku cadang, amunisi, peralatan sensor, kemampuan perbaikan, serta fasilitas pelabuhan untuk pemeliharaan.
Kehilangan kapal juga memiliki dampak besar karena industri Era Futuristik tidak lagi dapat mengganti seluruh aset yang hancur dengan cepat.
Akibatnya, kapal besar atau canggih biasanya digunakan apabila terdapat kebutuhan yang sebanding dengan risiko operasinya.
Patroli laut jangka panjang juga lebih sulit dipertahankan. Semakin lama kapal berada jauh dari pangkalan, semakin besar kemungkinan mengalami kerusakan, kehilangan komunikasi, menghabiskan amunisi, atau menghadapi ancaman yang tidak dapat ditangani sendiri.
Kapal Canggih
Kapal Era Futuristik yang masih bertahan memiliki keunggulan besar dibandingkan kapal sederhana.
Sistem yang dapat tersedia meliputi sonar, sensor bawah air, perlindungan lambung, sistem pertahanan titik, drone laut, persenjataan otomatis, dan berbagai sistem tempur lainnya.
Namun, teknologi tersebut tidak menjamin keselamatan.
Monster dapat menyerang dari bawah permukaan, kerusakan lambung dapat terjadi jauh dari fasilitas perbaikan, komunikasi dapat terputus, sedangkan amunisi dan komponen tertentu tersedia dalam jumlah terbatas.
Nilai utama kapal canggih pada Zaman Liraya terletak pada peningkatan kemampuan bertahan, deteksi, dan tempur, bukan pada kemampuan untuk membuat laut sepenuhnya aman.
Persenjataan Laut
Kapal yang beroperasi di wilayah berbahaya dapat menggunakan berbagai sistem senjata Era Futuristik. Efektivitasnya bergantung pada jenis ancaman, jarak, keadaan lingkungan, serta karakteristik monster yang dihadapi.
| Sistem | Penggunaan dan Batasan |
|---|---|
| Meriam / autocannon / gatling berat | Digunakan terutama terhadap ancaman permukaan atau jarak dekat hingga menengah |
| Sistem pertahanan titik | Melindungi kapal dari ancaman yang mendekat |
| Torpedo | Digunakan terhadap target bawah air; jumlah amunisi dan kemampuan pelacakan menjadi pembatas |
| Bom laut | Digunakan terhadap ancaman bawah permukaan dalam kondisi tertentu |
| Laser kapal | Dapat digunakan pada kapal yang masih memiliki sistem energi dan pendinginan yang memadai |
| Railgun | Tersedia pada kapal tertentu sebagai persenjataan berat |
| Rudal dan roket jarak jauh | Tidak dapat diandalkan akibat pengaruh Ambang Langit |
Torpedo memiliki nilai penting karena bergerak di bawah air dan tidak mengalami kondisi yang sama seperti proyektil yang bergerak melalui atmosfer. Namun, efektivitasnya tetap dibatasi oleh kemampuan deteksi, kecepatan target, ketahanan monster, serta ketersediaan amunisi.
Senjata laser dapat digunakan terhadap sasaran yang berada dalam jangkauan sistem kapal. Penggunaannya tetap bergantung pada energi, pendinginan, kondisi lingkungan, dan kemampuan mempertahankan target.
Railgun tetap tersedia pada beberapa kapal berat dan fasilitas pertahanan pesisir. Pada jarak yang lebih jauh, proyektil berkecepatan tinggi tetap dapat terpengaruh oleh kondisi Ambang Langit ketika bergerak melalui atmosfer.
Rudal, roket, dan artileri jarak jauh mengalami batas yang sama seperti sistem serangan jarak jauh lainnya.
Sejak 30 Lumera 4016, manusia telah mengetahui bahwa proyektil dan sistem senjata yang bergantung pada lintasan udara dapat gagal, menyimpang, atau hancur sebelum mencapai sasaran.
Karena itu, kapal tidak lagi dapat mengandalkan serangan jarak jauh dengan tingkat keandalan seperti pada Era Futuristik.
Dampak terhadap Negara Kepulauan dan Perdagangan
Negara kepulauan termasuk wilayah yang paling terdampak oleh perubahan kondisi laut.
Pada Era Futuristik, laut berfungsi sebagai jalur transportasi utama antara pulau, kota pesisir, pusat perdagangan, dan fasilitas militer. Setelah kondisi laut memburuk, hubungan tersebut menjadi lebih sulit dipertahankan.
Pulau atau kawasan pesisir dapat kehilangan hubungan dengan pemerintah pusat apabila jalur laut dan komunikasi terputus. Kondisi suatu pulau juga tidak selalu dapat diketahui secara langsung dari wilayah lain.
Masalah tersebut telah terlihat di Tavaru sebelum Konvergensi Terra selesai. Pada 30 Lumera, perjalanan antarpulau telah praktis lumpuh akibat meningkatnya ancaman laut dan hilangnya banyak pilihan transportasi lain.
Perdagangan laut tetap berlangsung pada Zaman Liraya, terutama melalui rute yang relatif pendek atau telah dipetakan.
Pengiriman makanan, obat-obatan, peralatan, data, komponen langka, dan kebutuhan strategis dapat dilakukan melalui kapal apabila risikonya dianggap dapat diterima.
Rute yang lebih panjang membutuhkan pengawalan, persiapan, serta biaya operasional yang lebih besar. Kondisi tersebut membuat hubungan perdagangan antara wilayah yang dipisahkan laut jauh lebih terbatas dibandingkan pada Era Futuristik.
Kesatuan Garda Terra
Kesatuan Garda Terra tetap memiliki sebagian kemampuan laut Era Futuristik setelah Konvergensi, tetapi armadanya tidak lagi utuh atau terhubung sebagai satu kekuatan global.
Kapal KGT dapat digunakan untuk patroli pelabuhan, pengawalan, penyelamatan, evakuasi, logistik, operasi antarpulau, perlindungan kapal penting, dan ekspedisi tertentu.
Namun, KGT tidak memiliki kemampuan untuk menjaga seluruh lautan Terra atau menjamin keamanan seluruh jalur pelayaran.
Armada Laut KGT Sisa
Armada Laut KGT Sisa adalah istilah untuk kapal, kru, teknisi, fasilitas pelabuhan, dan unit laut KGT yang berhasil bertahan memasuki Zaman Liraya.
Komposisinya berbeda di setiap wilayah. Sebagian markas masih dapat memiliki kapal patroli, kapal logistik, kapal pengawal, kapal perang, kapal evakuasi, kapal selam, drone laut, atau fasilitas pelabuhan aktif.
Wilayah lain dapat kehilangan sebagian besar armadanya atau tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan kapal yang tersisa.
Keterbatasan utama armada meliputi jumlah kapal yang semakin sedikit, kehilangan kru dan teknisi, rusaknya pelabuhan, keterbatasan amunisi serta suku cadang, gangguan komunikasi, dan tingginya risiko kehilangan aset yang sulit diganti.
Karena itu, penggunaan Armada Laut KGT Sisa diprioritaskan untuk operasi yang memiliki kepentingan strategis atau kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi melalui jalur lain.

